Penerjemah

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bapak proklamator

Bapak proklamator
Ir. Soekarno

Sejarah Tanah Laut

Rabu, 16 November 2011

Asslamm’ualaikum…
Salam Perjuang kepada kawan-kawan..
Merdeka…..!!!
Pertama-tama yang paling utama saya berterimakasih kepada Maha pencipta masih memberikan kesempatan saya untuk nulis Blog saya untuk di cermati dan di resapi kepada para kawan-kawan Perjuangan.
Sekarang saya Berada di Kabupaten Tanah Laut ( plehari ) provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki Sejarah yang menarik untuk di teliti….sekarang kita akan membedah Informasi Tanah laut….Cekidot

Asal Nama Pelaihari

 

Banyak yang mempertanyakan kapan nama Pelaihari ini muncul, darimana asalnya dan adakah yang unik sehingga nama Pelaihari tersohor. Sampai saat ini belum ada kejelasan, kapan (tanggal, bulan dan tahun) lahirnya nama Pelaihari.
Menurut sejarah Kalimantan Selatan Kota Pelaihari mengalami perkembangan dengan pesat setelah kedatangan Bangsa Belanda dan penduduk kota Banjar. Proses terbentuknya kota Pelaihari dimulai ketika Belanda mulai mengadakan pemekaran daerah kekuasaannya.
Dari Banjarmasin melalui Martapura, Belanda membuat jalan raya dari Hulu sungai sampai Muara Uya, yang dimaksudkan untuk mengamankan kegiatan militernya dan memudahkan pengontrolan terhadap penduduk. Belanda membuat kebijakan semua desa yang terletak jauh dari jalan besar dibongkar dan dipindahkan letaknya di tepi jalan besar, sehingga muncullah jenis desa baru yang rumah-rumahnya berbaris berhadapan di sepanjang jalan bukan bertebaran seperti sebelumnya.
Pada setiap simpangan sungai yang strategis Belanda membuat benteng-benteng pengawasan wilayah, sehingga terbentuklah kota-kota baru seperti, Binuang, Rantau, Kandangan, Barabai, Tanjung, Pelaihari dan sebagainya.
Sedangkan untuk mengetahui kapan mulai berdirinya kota Pelaihari ini mungkin bisa diperkirakan setelah Pemerintah Belanda memproklamasikan penghapusan Kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860. Sehingga dapatlah diperkirakan berdirinya kota Pelaihari setelah tahun 1860 (Pelaihari menjadi pusat pemerintahan pada tahun 1892).
Mengenai asal-usul nama Pelaihari ada beberapa macam informasi antara lain, Bapak Achmad Sjakrani salah seorang tokoh daerah Tanah Laut, mengatakan bahwa nama pelaihari berasal dari kata "PELARI", yang maksudnya tempat pelarian pahlawan-pahlawan Banjar dalam menentang Belanda. Namun beliau tidak dapat menjelaskan siapa yang memberikan nama demikian.
Sedangkan berdasarkan sumber lainnya, yakni Arthum Artha seorang penulis sejarah dan wartawan di Kalimantan Selatan menyatakan dalam bukunya "Gelanggang Tanah Laut", bahwa nama Pelaihari berasal dari nama seorang yang mula-mula membuka perkebunan lada Mulocco (Malocco) yang kemudian menjadi Maluka, yaitu Master Here.
Pada zaman penjajahan Inggris, yang menjalankan kekuasaan ialah Alexander Hare. Ia munujuk salah seorang keluarganya yaitu Master Hare (Mr. Pley Hare) untuk membuka perkebunan lada di Tanah Laut.
Menurut Arthum, nama Pley Hare ini sering diucapkan oleh orang-orang di Tanah Laut dengan sebutan Pelaihari, seperti pada umumnya penyebutan nama-nama orang asing lainnya di Tanah laut, misalnya Alexander menjadi Alikandar dan Mulocco menjadi Maluka.
Pada zaman Belanda, Kantor Pos menulis "Pelaihari" dan beberapa instansi menulis "Pleihari". Pada zaman Bupati pertama Abdullah Sjahril, penulisan nama kota ini diseragamkan menjadi seperti yang kita ketahui sekarang ini yaitu "PELAIHARI".



Sampai dengan saat ini Pelaihari cukup dikenal sampai tingkat nasional. Yang membuat nama Pelaihari ini cukup dikenal antara lain adalah hewan ternaknya, belacan, nangka dan satwa langka kijang kuning keemasan (Cervulus Pelaiharicus).

Sejarah

Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8 Dalam tahun 1863 daerah Tanah Laut merupakan Afdeeling Tanah-Laut. Menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178 Tanah Laut menjadi salah satu onderafdeeling di dalam Afdeeling Martapoerayaitu Onderafdeeling Tanah Laoet terdiri dari :
  1. Distrik Pleihari
  2. Distrik Maluka
  3. Distrik Satui
Selanjutnya Tanah Laut adalah sebuah kewedanan yang berada di dalam wilayah Daswati II Banjar, dengan wilayahnya yang luas dan memiliki potensi yang besar sebagai sumber pendapatan asli daerah, seperti hutan beserta isinya, laut dan kekayaan alam di dalamnya dan barang-barang tambang dan galian yang tersimpan di dalam tanah serta kesuburan tanahnya. Potensi cukup besar yang dimiliki oleh Tanah Laut pada waktu itu belum bisa terkelola dikarenakan belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena keadaan yang demikian dan sejalan dengan adanya beberapa kewedanan di Kalimantan Selatan yang menuntut untuk dijadikan Daswati II, membangkitkan semangat dan keinginan yang kuat bagi tokoh-tokoh dan masyarakat Tanah Laut untuk meningkatkan kewedanannya menjadi Daswati II. Hasrat tersebut pernah disampaikan oleh wakil-wakil LVRI Tanah Laut melalui sebuah resolusi dalam
Konverda LVRI se-Kalimantan Selatan di Martapura yang disampaikan oleh Ach. Syairani dan kawan-kawan pada tahun 1956. Kemudian pada tahun 1957 H. Arpan dan kawan-kawan, selaku wakil rakyat Tanah laut yang duduk di DPRD Banjar, memperjuangkan bagi otonom Daswati II Tanah Laut, namun belum juga membuahkan hasil. Kemudian pada tanggal 15 April 1961 bertempat di rumah H. Bakeri, Kepala Kampung Pelaihari, berkumpullah lima orang pemuda yaitu: Atijansyah Noor, Moh. Afham, Materan HB, H. Parhan HB dan EM. Hulaimy bertukar pendapat untuk memperjuangkan kembali kewedanan Tanah Laut menjadi Daswati II.
Tukar pendapat tersebut membuahkan hasil berupa tekad yang kuat memprakarsai untuk menghimpun kekuatan moril maupun material dalam upaya memperjuangkan terwujudnya Daswati II Tanah Laut. Tekad dan prakarsa tersebut dimulai dengan terselenggaranya rapat pada tanggal 3 Juni 1961, bertempat di rumah Moh. Afham yang dipimpin oleh materan HB. Rapat tersebut menghasilkan terbentuknya sebuah Panitia Persiapan Penuntut Daswati II Tanah Laut dengan ketua umum Soeparjan. Panitia ini dikenal dengan nama Panitia Tujuh Belas dengan tugas pokok persiapan penyelenggaraan musyawarah besar seluruh masyarakat Tanah laut. Untuk terlaksananya tugas pokok tersebut panitia menetapkan lima program kerja, sebagai berikut:
  1. Mengadakan hubungan dengan pemuka/tetuha masyarakat guna mendapat dukungan.
  2. Mengumpulkan data potensi daerah.
  3. Mengusahakan pengumpulan dana.
  4. Membuat pengumuman untuk disebarluaskan ke masyarakat.
  5. Menyelenggarakan ceramah dengan meminta kesediaan Ach. Syairani, H.M.N. Manuar, Wedana Usman Dundrung, Mahyu Arief dan H. Abdul Wahab.
Usaha Panitia Tujuh Belas berhasil dengan terselenggaranya Musyawarah Besar se-Tanah Laut pada tanggal 1-2 Juli 1961 dan menghasilkan resolusi pernyataan serta terbentuknya "Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Tuntutan Daswati II Tanah Laut" yang diketuai H.M.N. Manuar. Pada tanggal 12 Juli 1962, panitia ini menyampaikan memori Tanah Laut kepada Bupati dan Wakil Ketua DPRD GR Banjar, kemudian pada tanggal 6 Agustus 1962, Ketua Seksi A DPRD GR Banjar meninjau Tanah Laut dan dalam sidangnya pada tanggal 3 September 1962 mendukung Tuntutan Tanah Laut untuk dijadikan Daswati II dengan surat keputusan nomor 37/3/DPRDGR/1962, tanggal 3 September 1962.
Dengan terbitnya keputusan DPRD GR Banjar tersebut, Panitia Penyalur terus berusaha mendapat dukungan di tingkat Provinsi, baik melalui Kerukunan Keluarga Tanah Laut (KKTL) di Banjarmasin maupun di DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan.
Atas usaha tersebut maka pada tanggal 26 November 1962 Tim DPRD GR Tingkat Kalimantan Selatan meninjau Tanah Laut, dari hasil kunjungan tersebut DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan mendukung terbentuknya Daswati II Tanah laut dalan bentuk sebuah resolusi yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, tanggal 11 Desember 1962, nomor 12/DPRDGR/RES/1962.
Sebagai realisasi dari resolusi DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan, Maka DPRD GR RI mengirim Tim yang dipimpin oleh Ketua Komisi B, yaitu Imam Sukarni Handokowijoyo dan tiba di Tanah Laut pada tanggal 2 Oktober 1963 yang disambut dengan rapat umum, kemudian melakukan peninjauan ke Kintap dan Ujung Batu serta pertemuan dengan pejabat dan panitia penuntut.
Dalam pertemuan dengan TIM DPRD GR RI Ketua tim menganjurkan agar Panitia Penyalur ditingkatkan menjadi Badan Persiapan, maka pada tanggal 27 Oktober 1963 Panitia Penyalur telah berhasil membentuk "Badan Persiapan Pembentukan Daswati II Tanah laut ", dengan Ketua H. M. N. Manuar. Pada tanggal 31 Oktober 1963 sidang DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan menyetujui resolusi yang mendesak kepada Gubernur untuk menunjuk Penguasa Daerah bagi Tapin, Tabalong dan Tanah Laut.
Kemudian pada tanggal 11 Agustus 1964 diadakan serah terima kekuasaan kewedanan Tanah Laut dengan Bupati Banjar yang selanjutnya tanggal 9 September 1964 diresmikan berdirinya Kantor Persiapan Tingkat II Tanah Laut oleh Bapak Gubernur sekaligus melantik GT. M. Taberi sebagai kepala Kantor Persiapan.
Pada tanggal 24 April 1965 Badan persiapan yang ada diperbaharui dalam suatu musyawarah bertempat di Gedung Bioskop Sederhana Pelaihari yang dipimpin oleh A. Wahid dan berhasil menyusun Badan Persiapan Tingkat II yang baru dengan Ketua Umum R. Sugiarto dan Sekretaris Umum adalah A. Miskat.
Dalam kurun waktu Agustus sampai dengan November 1965, Badan Persiapan mengadakan beberapa kali rapat dan pertemuan dalam rangka mempersiapkan menyambut lahirnya Kabupaten Tanah Laut yang sudah di ambang pintu.
Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965, tentang Pembentukan Daswati II Tapin, Tabalong dan Tanah Laut, maka pada tanggal 2 Desember 1965 dilaksanakan upacara peresmian berdirinya Daswati II Tanah Laut oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah DR. Soemarno.
Dengan demikian tanggal 2 Desember dicatat sebagai Hari Jadi Kabupaten Tanah Laut yang diperingati setiap tahunnya.

 

 

 

Geografi

Kabupaten Tanah Laut terletak pada posisi 114°30'20 BT – 115°23'31 BT dan 3°30'33 LS - 4°11'38 LS dengan batas–batas administratif sebagai berikut :

Laut Jawa
Laut Jawa
Kabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa
Luas wilayah Kabupaten Tanah Laut adalah 3.631,35 km² (363.135 ha) atau sekitar 9,71% dari luas Provinsi Kalimantan Selatan, secara administratif terdiri dari 11 wilayah kecamatan, 130 desa dan 5 kelurahan.
Daerah yang paling luas adalah Kecamatan Jorong dengan luas 628,00 km², kemudian Kecamatan Batu Ampar seluas 548,10 km² dan Kecamatan Kintap dengan luas 537,00 km², sedangkan kecamatan yang luas daerahnya paling kecil adalah Kecamatan Kurau dengan luas hanya 127,00 km².
Berdasarkan tingkat kelandaiannya wilayah Kabupaten Tanah Laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu meliputi wilayah datar (kemiringan 0-2%) sebesar 290.147 ha, wilayah bergelombang (kemiringan 2-15%) sebesar 43.060 ha, wilayah curam (kemiringan 15-40%) sebesar 26.833 ha dan wilayah sangat curam (kemiringan >40%) sebesar 12.890 Hektar.

Pemerintahan

Di Kabupaten ini ada 2 (dua) kelembagaan penting yang membentuk Pemerintahan Daerah, yaitu kelembagaan untuk pejabat politik, yaitu Kepala Daerah dan DPRD serta kelembagaan untuk pejabat karier yang terdiri dari perangkat daerah (Dinas, Badan, Kantor, Sekretariat, Kecamatan, Kelurahan dan lain-lain).

 

 






Bupati

Nama-Nama Bupati Kabupaten Tanah Laut 1966-2008
No
Nama
Masa Jabatan
Keterangan
1
Gt. M. Tabri
1966 s/d 1967
2
A. Syahril
1967 s/d 1972
3
M. Roeslan
1972 s/d 1978
4
Soemarsono PA
1978 s/d 1983
5
Kamaruddin Dimeng
1983 s/d 1988
6
Soepirman
1988 s/d 1992
7
Drs. Fadhullah Thaib
1992 s/d 1993
8
H. Totok Soewarto
1993 s/d 1998
9
Drs. H. M. Danche R. Arsa
1998 s/d 2003
10
Drs. H. Adriansyah
2003 s/d 2008
11
Drs. H. Adriansyah
2008 s/d sekarang

Organisasi Perangkat Daerah

Pemerintah Kabupaten Tanah Laut telah menyusun Organisasi Perangkat Daerah sebagaimana digambarkan dalam tabel dibawah ini:
BENTUK KELEMBAGAAN ORGANISASI
JUMLAH
2
13
7
11
5

Sosial Budaya

Demografi

Kabupaten Tanah Laut memiliki jumlah penduduk mencapai 270.091 jiwa, terdiri dari 137.574 jiwa laki-laki (50,94%) dan 132.517 jiwa perempuan (49,06%) dengan mayoritas usia 15–60 tahun sebesar 174.399 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata sebesar 74 jiwa/km² pada tahun 2008.

Suku bangsa

Suku asli di daerah ini adalah suku Banjar dan suku Dayak Bukit di desa Bajuin. Adapun keseluruhan suku bangsa yang ada di kabupaten ini antara lain:
  1. Suku Banjar: 142.731 jiwa
  2. Suku Jawa: 73.237 jiwa
  3. Suku Madura: 3.282 jiwa
  4. Suku Bukit: 585 jiwa
  5. Suku Bakumpai: 32 jiwa
  6. Suku Mandar: 49 jiwa
  7. Suku Sunda: 2.739 jiwa
  8. Suku lainnya: 5.268 jiwa

Obyek Wisata Yang Ada Di Pelaihari Kabupaten Tanah Laut

Kabupaten Tanah Laut dengan ibukota Pelaihari memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
WISATA ALAM
Pantai Batakan
Salah satu obyek wisata yang ada di pelaihari yang paling terkenal adalah Pantai Batakan ini.
pantai batakan
Pantai Batakan terletak di desa Batakan kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), sekitar 125 kilometer arah timur dari Kota Banjarmasin (Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan). Untuk mencapai lokasi Pantai Batakan, dari Kota Banjarmasin relatif mudah karena kondisi jalannya cukup baik. Walaupun jalannya berkelak-kelok dan turun-naik, tetapi menyajikan pemandangan alam yang indah berupa barisan perbukitan yang menghijau, hamparan persawahan yang menguning, serta perkampungan nelayan yang berada di tepi pantai.
Pantai Batakan merupakan obyek wisata bahari yang terpadu dengan panorama alam pegunungan, karena di sebelah timurnya terdapat perbukitan pinus yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus. Di pantai ini pengunjung dapat mengelilingi pantai sambil menggunakan kuda sewaan, bersantai di bawah pohon cemara sambil menikmati keindahan pantai, atau menyaksikan panorama alam terutama saat matahari akan terbenam (sunset).
Pantai Batakan juga dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti kamar mandi untuk bilas, rumah ibadah (masjid), panggung hiburan, cottage, restourant, penginapan, playground, hingga areal parkir kendaraan bermotor yang cukup luas.
Air Terjun Hamindrai
Air Terjun Hamindrai terletak ± 16 km dari kota Pelaihari, tepatnya di desa Tanjung Kecamatan Bajuin Kab.Tanah Laut. Air Terjun Hamindrai
merupakan obyek wisata alam dengan panorama pegunungan yang mempunyai 3 (tiga) tingkatan air terjun dengan ketinggian ± 22 meter.
Di sekitar air terjun ini juga terdapat beberapa jenis burung dan tanaman anggrek hutan, dll yang berada di kawasan pegunungan Maratus. Selain itu juga bisa dikembangkan sebagai ekowisata (trakking, climbing, hikking), dll.
Pantai Takisung
Pantai Takisung adalah merupakan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai dengan aktivitas jual beli ikan segar maupun ikan kering langsung dari nelayan.

Pantai Takisung terletak di desa Takisung kecamatan Takisung yaitu sebelah barat wilayah Kabupaten Tanah Laut. Berjarak kurang lebih 22 km dari kota Pelaihari atau kurang lebih 87 km dari ibu kota Kalimantan Selatan yaitu Banjarmasin. Meskipun Pantai Takisung merupakan Laut Jawa, namun ombaknya tidak besar seperti halnya pantai selatan pulau Jawa. Sehingga aman untuk wisata maupun menjadi pemukiman.
Sebagai objek wisata, Pantai Takisung bisa digolongkan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa dengan pasirnya yang coklat seperti air lautnya (untuk identifikasi airnya, yaitu dari hasil observasi didapatkan pH airnya 9 yang tergolong basa dengan suhu 250C dan kecepatan aliran airnya sebesar 1927 rpm, sedangkan tingkat kecerahan airnya sebesar 32 cm), ditemanin banyak pasar-pasar yang menjual jajanan khas pantai, mulai dari ikan asin, hiasan kerang, udang, ikan, sampai terumbu karang langsung dari nelayan. Ditambah lagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut yang terus mempoles objek wisata ini melalui pembangunan sejumlah fasilitas umum yang tak dimiliki objek wisata pantai lainnya. Diantaranya, selter, panggung permanen, rumah makan (belum dioperasionalkan), dan penginapan.
Air Terjun Bajuin
Air Terjun Bajuin terletak 10 km dari kota Pelaihari tepatnya di Desa Sei Bakar Kabupaten Tanah Laut atau 75 km dari kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.
Air terjun Bajuin yang meiliki panorama pegunungan yang sangat indah
Air terjun Bajuin yang mengalir dengan derasnya
Air Terjun Bajuin memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Air terjun Bajuin ini terletak di kawasan lereng pegunungan Meratus serta ditingkahi kencangnya angin yang menyebabkan air terjun seolah-olah menari-nari dari atas puncaknya menuju ke bawah.
Air Terjun Habulu
Air Terjun Habulu terletak di desa Tanjung Kecamatan Bajuin, ± 17,5 km dari kota Pelaihari.
Wisata Alam Air terjun dengan panorama di ketinggian pegunungan dan mempunyai 2 (dua) tingkatan ketinggian. Air terjun ke 1 dengan ketinggian ± 19 meter dan Air terjun ke 2 mempunyai ketinggian ± 111 meter. Selain air terjun, terdapat juga beberapa jenis burung dan tanaman anggrek hutan.
Goa Marmer
Objek wisata Goa Marmer terletak di desa Sei Bakar Kecamatan Bajuin Pelaihari. Objek wisata Goa Marmer dapat ditempuh dengan berjalan kaki ± 30 menit dari Air Terjun Bajuin, atau ± 10 km dari kota Pelaihari.
Goa Marmer memiliki keunikan karena dinding goa banyak terdapat batu marmer yang biasa digunakan untuk ubin rumah dan bentuk atas goa seperti kubah masjid. Di dalam goa juga terdapat kehidupan binatang malam seperti kelelawar, burung, ular, monyet, laba-laba goa, ikan pentet, dll.
Goa Macan / Liang Babau
Goa Macan / Liang Babau terletak di desa Tanjung kecamatan Bajuin, berjarak ± 19 km dari kota Pelaihari.
Obyek Wisata Alam ini merupakan objek wisata goa yang memiliki aroma tidak sedap (babau=bahasa Banjar), berada di kawasan pegunungan Meratus
Goa ini terbentuk dari batu marmer, dan mempunyai aliran sungai kecil yang terdapat di dalam goa.
Di sekitar goa terdapat beberapa hewan seperti kelelawar, ular, monyet merah (Kelahing), laba-laba goa, tikus putih, landak, ayam hutan dan macan, dll.
Pantai Swarangan
Pantai Swarangan terletak di desa Swarangan kecamatan Jorong. Aksesibilitas ke obyek tersebut dapat ditempuh melalui transportasi darat dengan jarak tempuh ± 52 km dari ibukota Kabupayen Tanah Laut ( Pelaihari), atau 117 km dari kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.
Merupakan objek wisata pantai dengan berbagai sarana pendukung, menyaksikan matahari terbit. Mempunyai daya dukung dengan gelombang air laut cukup besar. Wisata pantai dengan tumbuhan pohon bakau, sarana panggung hiburan, publik toilet. Daya dukung atraksi wisata bahari dengan besar gelombang serta kejernihan air laut.

Pantai Batu Lima
Pantai Batu Lima terletak di desa Kuala Tambangan kecamatan Takisung, dari ibukota Kabupaten Tanah Laut (Pelaihari) berjarak ± 35 km. sarana yang tersedia di objek ini seperti : Play Ground, Shelter dan Cottage yang berjumlah 18 buah. Menurut legenda, lima buah batu tersebut sebagai tempat pemandian 5 orang putri (Upacara Adat Mandi Badudus).

Pantai Tanjung Dewa
Pantai Tanjung Dewa terletak di Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Hanya dengan menempuh jarak sekitar 100 km dari kota Banjarmasin maka kita sudah tiba di pantai Tanjung Dewa. Jarak yang tidak terlalu jauh ini memungkinkan kita untuk dapat berakhir pekan ke pantai Tanjung Dewa ini kapanpun kita mau. Perjalanan menuju pantai Tanjung Dewa ini sangat tidak membosankan karena kita akan melintasi areal persawahan dan pegunungan yang hijau dan indah. Sangat cocok untuk melepaskan kepenatan terhadap rutinitas harian kita.Beberapa pantai di Kalsel lebih menonjolkan pesona pasirnya, namun pantai Tanjung Dewa sedikit berbeda yaitu dengan keindahan karangnya yang lebih mempesona.

Pantai Tanjung Dewa memiliki 2 bagian, ada bagian yang berpasir dan ada juga yang berkarang. Jika kita duduk di atas salah satu karangnya, maka sangat tepat untuk menikmati landscape pantai dan laut secara bersamaan. Tidak hanya itu saja, selain bisa menikmati keindahan laut dan pantai kita juga bisa menikmati keindahan pegunungan dari kejauhan. Saat cuaca cerah lekuk-lekuk gunung akan sangat jelas terlihat.
Air Terjun Balangdaras
Air terjun Balangdaras terletak 25 km dari kota Pelaihari tepatnya di desa Tanjung kecamatan Bajuin Pelaihari.

Air terjun Balangdaras memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Berada di ketinggian pegunungan dengan ketinggian ± 45m Air Terjun Balangdaras berada di kawasan pegunungan Maratus.
Kerbau Rawa Banua Raya
Menyusuri sungai dan rawa untuk menyaksikan kumpulan hewan kerbau rawa liar. Kerbau rawa ini jumlahnya 180 ekor yang mana biasanya mereka berada di kawasan hutan yang ditumbuhi banyak pohon galam. Wisata sungai dengan pemandangan gunung dan areal persawahan. Terletak 26 km dari kota Pelaihari atau tepatnya di Desa Benua Raya Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut.


Daya dukung lingkungan yang berada di antara pegunungan dengan pengembangan wisata memancing dan berperahu.
Bekantan
Wisata Bekantan terletak di desa Panjaratan Kecamatan Pelaihari, berjarak ± 15 km pusat kota Pelaihari. Hewan Bekantan sebagai maskot Kalimantan Selatan merupakan hewan langka yang mesti dilindungi.
Untuk menuju ke kawasan ini, bisa menyusuri sungai Panjaratan dengan naik perahu motor yang jaraknya ± 3 km. Selain Wisata sungai, Anda juga bisa menikmati pemandangan gunung, areal perkebunan kelapa sawit, dan persawahan.
Gunung Karamaian
Gunung Keramaian ini terletak di desa Ujung Batu kecamatan Pelaihari, ± 58 km dari Kota Banjarmasin. Gunung ini merupakan obyek wisata alam.

Bukit Kayangan
Bukit Kayangan memiliki pesona yang memukau dengan pemandangan perbukitan dan hamparan perkebunan Kelapa Sawit.

Aksesibilitas darat dapat ditempuh ± 55 km dari Kota Banjarmasin tepatnya di desa Ambungan sebelum kita menuju/memasuki Kota Pelaihari tentunya melewati objek wisata tersebut. Sarana yang tersedia saat ini berupa tempat ibadah (Mushola), dan jenis wisata yang bisa dikembangkan berupa wisata MICE (Wisata Meeting and Conference).
Wisata Alam Pedesaan panyipatan
Desa Panyipatan yang terletak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut merupakan tempat obyek wisata khas alam pedesaan.
Usaha tani yang masih diterapkan secara tradisional tanpa pupuk anorganik dan keasrian alam gi kawasan sentra pertanian (padi lokal).
Area penanaman padi di Panyipatan mencapai ratusan hektare. persawahan itu menjadi satu dengan tiga desa tetangga, Telaga Langsat, Kandangan Baru, dan Batu Tungku.
Kawasan pertanian tersebut juga menyimpan kekayaan hayati yang beragam. Terdapat rawa dalam yang menyimpan ikan air tawar khas Kalimantan, antara lain, papuyu dan haruan (gabus).
Selain populasinya sangat banyak, ukurannya juga besar-besar. Desa Panyipatan memiliki potensi wisata alam terpadu yang eksotis.

WISATA BUATAN
Taman Mina Tirta
Keindahan di Taman Mina Tirta Pelaihari waktu siang, sungguh nyaman untuk tempat beristirahat dan santai sejenak sambil menikmati keindahan panorama kolam di Taman Mina Tirta ini. Selain ada taman bermain anak-anak, taman bunga, juga ada sarana rekreasi berupa perahu sewa berbentuk angsa untuk bersenang senang mengitari kolam Taman Mina Tirta Pelaihari ini.

Selain itu, bagi kamu yang hobi mancing juga bisa menyalurkannya disini. Disekitar Taman juga ada sejumlah pedagang yang menyediakan beraneka minuman segar, tempat yang sangat cocok bagi kamu yang mau ber istirahat sejenak. Bagi kamu yang dari Kota Baru, Kintap dan sebagainya yang hendak bepergian ke Kota Banjarmasin, bisa mampir dan istirahat sebentar di taman ini, tempatnya tidak jauh dari simpang perkantoran Pemda Tanah Laut.
Taman Kijang Kencana
Letak taman ini berada di tengah kota Pelaihari, tepatnya di kelurahan Pelaihari kecamatan Pelaihari. Taman yang selalu dikunjungi oleh muda-mudi, tak hanya itu para orang tua dan yang ingin menikmati asrinya Taman Kijang Kencana.

dapat dijumpai di sekitar taman sambil menikmati indahnya kota Pelaihari
Menara Pengawas Tentara Jepang
Menara Pengawas Tentara Jepang berada di desa Sei Bakar Kecamatan Bajuin, berjarak ± 11 km dari kota Pelaihari. Menara Pengawas ini merupakan kawasan wisata sejarah peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia ke II.
Kawasan wisata menara pengawas Jepang ini berada dalam kawasan goa Marmer yang mempunyai nilai sejarah pada masa perang dunia ke II sebagai tempat tentara Jepang mengintai musuh.
Di sekitar kawasan ini terdapat juga beberapa hewan seperti kelelawar, burung, ular, monyet, dan di kelilingi view batu-batu cadas disekitar bunker Jepang tersebut.
Taman Hutan Kota
Taman hutan kota ini terletak di kelurahan Angsau kecamatan Pelaihari. Pohon yang ditanam cukup bervariasi yang sebagian besar adalah pohon berkayu hutan tropis. Diantaranya adalah jenis mahoni. Pohon yang memiliki nilai ekonomis ini akan melengkapi dan dimungkinkan sebagai pengganti pepohonan yang ada di hutan kota yang umumnya masih didominasi akasia.

WISATA RELIGIUS
Pulau Datu (Makam Datu Pamulutan)
Pulau Datu adalah pulau kecil yang terdapat di dekat Pantai Batakan, kecamatan Panyipatan, Tanah Laut, Kalsel.
pulau datu
Dinamakan pulau Datu karena di pulau tersebut terdapat makam seorang datu (sunan/penyebar agama Islam) yang dikenal dengan sebutan Datu Pamulutan, yang dahulu punya kegemaran menangkap burung dengan pulut (getah).

Datu Pamulutan ini bukan nama asli beliau melainkan hanya sebutan/gelar yang diberikan masyarakat karena semasa hidup beliau suka mamulut (cara berburu dengan menggunakan getah, biasanya untuk berburu unggas) burung. Menurut cerita warga setempat dahulunya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa merupakan satu kesatuan, namun karena proses alam maka akhirnya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa terpisah.
Jika kita ingin ke Pulau Datu kita tinggal menyewa perahu yang ada disana. Kita tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena biayanya tidak terlalu mahal. Berdasarkan kalender wisata pada bulan Maret ini akan dilaksanakan haul Datu Pamulutan di desa Tanjung Dewa tersebut. Selain bisa menikmati wisata alam kita juga bisa menikmati wisata religius disana. Bagi yang beruntung, di sekitar Pulau Datu juga akan ditemui beberapa ikan lumba-lumba berkeliaran.
Manaqib Datu Pamulutan
Datu Pamulutan sebenarnya bernama Sultan Hamidinsyah yang berasal dari Batang Banyu Mangapan Martapura, sehingga nama M Thaher merupakan nama samaran dalam menjalankan tugas sebagai wali dan hamba Allah.
Sultan Hamidinsyah ini mempunyai adik yang bernama Sultan Ribuansyah yang juga seorang pengemban dakwah, dalam menyebarkan Islam mereka menempuh jalan masing-masing, yaitu Hamidinsyah atau Datu Pamulutan ke arah timur dan adiknya kearah barat.
Datu Pamulutan mempunyai seorang murid setia yang selalu mengiringi perjalanan beliau, namanya H Syamsudin yang mempunyai nama asli Bamasara. Syamsudin, menurut pendapat sebagian orang adalah penduduk asli Tanjung Dewa yang juga dimakamkan di Pulau Datu, posisinya lurus dihunjuran (bagian kaki) makam gurunya.
Didalam kubah datu pamulutan, masih ada dua makam lainnya, yaitu makam H Abdussamad dan H Jafri, mereka adalah dua bersaudara itu sebagai seorang guru agama dan pada saat wafatnya juga berpesan agar dimakamkan di pulau Datu.
Datu Pamulutan selama hidupnya senantiasa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang wali untuk menyebarkan agama, ia juga memiliki jiwa patroiotisme dan heroisme, terbukti dengan perannya dalam mengkoordinir masyarakat Desa Tanjung Dewa untuk mengusir penjajan Portugis.
Kemudian, dari semua kegiatan yang patut dicatat selama hidupnya, Datu Pamulutan mampu membagi waktunya untuk tiga kegiatan yang bukan pekerjaan mudah, yaitu menyebarkan agama kepada masyarakat, mengkoordinir masyarakat untuk melawan penjajah yang ingin mendarat melalui pantai muara Tanjung Dewa dan sekitarnya, juga tetap menjalankan hobinya memulut (menjebak, Red) burung di daerah Tanjung Dewa, sehingga dari sinilah ia mendapat gelar sebagai Datu Pamulutan.
Dalam perjuangan melawan penjajah yang sudah sempat memasuki Kota Bandarmasih, ia mempunyai anak buah, yaitu Patih Mulur dan Patih Matis yang bertugas di daerah Pulau Pinang, Datu Saliwah yang punya ciri muka hilang sebelah di Tabuniu, Pangeran Penyapu Rantau, Datu Sumpit Gunung Dewa, Panglima Dumalik Kandangan Lama di Kandangan Lama mempunyai sebuah senjata sakti yaitu parang jarum, karena terbuat dari sekarung jarum, Patih Singa di Tanjung Selatan. Patih Arjan di daerah perbatasan Sebuhur.
Yang cukup menonjol dalam hal ini masalah fanatisme beragama, benar- benar di laksanakan antara yang halal dan haram yang suci dan najis. Sehingga sebelum beliau wafat sudah sempat berpesan, bila kelak dipanggil oleh Allah agar dikuburkan di desa Tanjung Dewa.
Setelah berpesan, beliau menggaris batas tanah dengan ibujari kaki. Untuk membatasi tanah agar tidak tercemar dari hal-hal najis, seperti dikencingi anjing, apalagi sampai diinjak penjajah kafir.
Di sinilah tampak keramat beliau, tanah yang digaris lambat laun menjadi sungai kecil dan akhirnya menjadi lautan. Sehingga tanah yang digaris jadi pulau tersendiri. Datu pamulutan wafat dan dimakamkan di Pulau Datu tahun 1817 Masehi, sedangkan muridnya menyusul 8 tahun kemudian atau pada tahun 1825 Masehi.
Sebenarnya ia wafat di desa tempat tinggalnya di Martapura, kelak bila meninggal dimakamkan ke Tanjung dewa. Karena jalan waktu itu masih belum seperti sekarang, maka jenazah dibawa lewat sungai kemudian menyisir laut dengan menggunakan sampan. Di sini kembali terlihat karamahnya, sampan yang digunakan menurut pandangan orang awam bukanlah sampan yang layak untuk mengarungi lautan, karena kecil dan lagi bocor, sehingga ragu apakah sampai atau tidak.
Namun dengan ridho dan rahmat Allah akhirnya sampan bisa sampai ke Tanjung Dewa.
Sampai sekarang, tanah yang menjadi makam beliau terpisah dari daratan, berjarak sekitar 1,2 - 1,5 kilometer. Sekarang sudah ada dermaga yang cukup sederhana, pengelolaan makam sendiri dilakukan oleh pihak ahli waris dan kerabat H Syamsudin muridnya, Makam keramat ini juga sudah menjadi tempat wisata religius, memanjatkan doa untuk dirinya. Namun karena letaknya di dekat wisata Batakan. Kondisi tersebut memungkinkan masyarakat sekitar untuk mendapat penghasilan tambahan, yaitu mengantar peziarah menyeberang dengan menggunakan perahu.
Makam Datu Insad
Makam Datu Insad terletak di desa Sambangan Kecamatan Bati-Bati Pelaihari. Makam keramat yang sering didatangi para peziarah baik dari Kabupaten Tanah Laut juga dari luar Kabupaten bahkan dari luar provinsi Kalimantan Selatan.
Menurut para peziarah yang mula-mula di datangi adalah makam keramat Datuk Insad apabila ingin menziarahi makam-makam keramat yang tersebar di provinsi Kalimantan Selatan (Datu yang dituakan).



WISATA SEJARAH / WISATA BUDAYA
Upacara adat Balian
Upacara adat Balian merupakan kegiatan yang menjadi tradisi menggambarkan aturan-aturan dari nenek moyang suku Dayak Maratus.

Upacara Adat Balian
Maksud dari dilaksanakannya upacara tersebut adalah dalam rangka meminta kepada Yang Kuasa agar Desa (kampung) dari komunitas suku Dayak Maratus terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan ( Pembersihan Kampung ). Arti Balian itu sendiri adalah mengelola yang di kelola ( Sanggau Bangun ) yang menjadi hak milik balian.
obyek wisata pelaihari
Berlangsungnya upacara adat Balian
Fisik Sanggau Bangun adalah berbentuk persegi empat sebagai tempat memanggil roh-roh nenek moyang terdahulu dari Suku Dayak Maratus. Didalamnya di taruh/ diberi sasajian/ makanan menurut kepercayaan supaya memberi dampak keselamatan kampung, terdiri dari Batang Pinang, serutan bamboo, kayu papannya ( pulantan ) yang disekelilingi dengan daun hanau.
Seluruh suku dayak Meratus mengikuti upacara adat Balian
Bagi "Suku Dayak Maratus" acara tersebut dilaksanakan setiap tahunnya, namun selama 3 (tiga) tahun terakhir kegiatan Balian tersebut tidak terlaksana dikarenakan keterbatasan dana dari keluarga besar suku Dayak ( Pengelola Balian ).
Selain itu juga, masih ada beberapa wisata yang ada di Pelaihari yang dapat dikunjungi, yaitu Telaga Alam Banyu Batuah, Bukit Sanghiyang, Selamatan Bajuin, Selamatan Laut Tabanio.
Upacara Adat Mandi Badudus di Pantai Batu Lima
Masyarakat Tanah Laut ternyata memiliki akar budaya yang cukup kuat, dibuktikan dengan tetap dilestarikannya sejumlah tradisi, warisan nenek moyang. Salah satunya yaitu, ritual mandi badudus di Pantai Batu Lima, yang digelar setiap tahun oleh warga Desa Kuala Tambangan Kecamatan Takisung.
Sayangnya, even tahunan yang sangat menarik ini, belum dipromosikan dengan baik. Sehingga meski sudah dijadikan agenda wisata tahunan oleh dinas pariwisata dan seni budaya, namun acara ini tidak banyak diketahui wisatawan. Kebanyakan pengunjung adalah masyarakat dari desa-desa sekitar Pantai Batu Lima.
Untuk sekadar diketahui, mandi badudus adalah ritual warga kampung nelayan, sekitar pantai batu lima. Prosesi ritual dilaksanakan di pantai, yang sejajar dengan posisi 5 buah batu besar yang terletak sekitar 300 meter dari bibir pantai.
Ritual ini digelar dengan tujuan, agar anak cucu warga desa tersebut selamat dan tidak mendapat marabahaya atau musibah, juga dengan harapan tangkapan ikan semakin meningkat.
Setalah kawan-kawan membaca tentang Sejarah Kabupaten Tanah laut mendapatkan sebuah Pengetahuan baru tentang kabupaten tersebut, semoga blog ini dapat bermanfaat.
Silahkan Tinggalkan Komentar dan Saran.




0 komentar:

Poskan Komentar